Archives for : April2011

DIALOG HARI SABTU

Sicilik 1: Papa, I want to ask you something.

Aku: Yes my dear.

Sicilik 2: Today you  will be at home right?

Aku: Yup.

Sicilik 1: for a whole day right?

Aku: Yup, my love.

Sicilik 1: Yayyyyyyy~(sreaming).

Aku: Why my dear?

Sicilik 1: I miss you papa. Always work work and work. Haishhh…

Aku: gulp!

Suri: Hah, tu dia, anak kurang kasih sayang papanya (ketawa).

Aku: Amboiiii….

Alif Ba

Alif

Hangat membara semangat kinerja,
Dua malam di Kota Solo, Surakarta.

Ba

Naga, Jangan takut mencinta,
hanya karena pernah terluka.
Untuk setiap luka yang kau dapat,
kau kian dekat dengan dia yang tepat.
Tidur Ga, malam sudah telat.

DIALOG ‘KITA’

Makan siang seorang diri di Kafe Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, RI.

Perempuan: Sendiri ya bapak? Aku duduk di sini ya. (Biasa kalau di Indonesia, makan semeja dengan orang yang tak dikenali kerana tak cukup tempat duduk)

Aku: Silakan mbak.

Perempuan: Bapak ada urusan di kantor Hukum ya? (Mula ramah tamah).

Aku: Gak mbak. Aku karyawan di perkantoran sebelah. Sering makan siang di sini.

Perempuan: Oh, di mana pak?

Aku: Kedubes (kedutaan besar) Malaysia mbak.

Perempuan: Orang ‘kita’ banyak ya pak kerja di dalam?

Aku: (Eh! perempuan ini tidak tahu aku bukan orang tempatan, padahal slang aku masih pekat bahasa Melayunya). Ada 50 orang mbak.

Perempuan: Apa bagus kerja di dalam pak? Apa mereka tidak diskriminasi orang-orang ‘kita’? Merekakan maling (pencuri) banyak tanah kita. TKI (tenaga kerja Indo) kita pun banyak diseksa.

Aku: (Aduh! Dah mula dah….). Alhamdulillah mbak. Senang sekali kerja di dalam. Gajinya lumayan. THR (tunjangan hari raya) setiap tahun ada. Elaun beras juga ada. Elaun transportasi juga ada.  Karyawan Malaysia baik-baik pak.  Yang mbak bilang itu semuanya permainan media. Media ini mendukung ahli politik yang sengaja mencari masalah untuk menimbulkan isu demi survival politik mereka.

Perempuan: Oh gitu. Sepertinya kamu kesurupan (dirasuk) oleh orang-orang mereka ya? (Masih tak berpuas hati).

Aku: Ya terserah ke mbak. (Aku, acuh tak acuh dan diam kerana aku tak berhasrat untuk berbual lagi. Takut mengundah marah).

Perempuan: Oh, kok hari ini bapak ga pakai batuk kita. Kan hari Jumaat. Atau bapak dipaksa memakai batik mereka. Batik mereka gak bagus. Batik ‘kita’ lebih bagus kan? Itulah Malaysia. Semuanya mahu di’claim’ milik mereka.

Aku: Mbak, di kantor saya, pemakaian batik hari Khamis. Tidak pula kami dipaksa-paksa memakai batik Malaysia. Apa mbak pernah punya batik Malaysia? Mbak harus beli dan pakai dahulu baru ngomong kayak gitu mbak. Malaysia gak pernah nge’claim’ batik milik mereka. Tetapi, salahkah mbak mereka punya batik sendiri kerana leluhur mereka aslinya kan dari ‘kita’ nusantara. Coba mbak fikir ya. Gimana dengan peci (kopiah/songkok). Peci itukan budaya dari Arab. Nah! Kalau begitu ‘kita’ gak bisa nge’claim’ juga kan. Itu belum masuk tarian ‘barongsai’ (tarian naga) yang pelakunya etnik Cina ‘kita’kan. Nah! Itukan aslinya dari China. Gimana mbak. Apa kita mahu nge’claim’ juga kah? Kita ini sering dikatakan serumpun. Tapi, dalam hal-hal sebegini mbak, apakah kita harus menebarkan sengketa?

Mbak: Pak, aku permisi dulu ya. (Perempuan itu bingkas bangun dan segera membayar harga makanan yang belum sempat dihabiskannya)

Aku tersenyum puas.